;
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Berbagai Makna dari Kata Zakat


Zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan apabila telah memenuhi syarat – syarat yang telah ditentukan oleh agama, dan disalurkan kepada orang–orang yang telah ditentukan pula, yaitu delapan golongan yang berhak menerima zakat sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 60 :

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk  budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana .”

Zakat dalam bahasa Arab mempunyai beberapa makna :

Pertama, zakat bermakna At-Thohuru, yang artinya membersihkan atau mensucikan. Makna ini menegaskan bahwa  orang yang selalu menunaikan zakat karena Allah dan bukan karena ingin dipuji manusia, Allah akan membersihkan dan mensucikan baik hartanya maupun jiwanya. Allah SWT berfirman dalam surat At-Taubah ayat 103:

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan  dan mensucikan  mereka  dan mendo'alah untuk mereka. Sesungguhnya do'a kamu itu  ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Kedua, zakat bermakna Al-Barakatu, yang artinya berkah. Makna ini menegaskan bahwa orang yang selalu membayar zakat, hartanya akan selalu dilimpahkan keberkahan oleh Allah SWT, kemudian keberkahan harta ini akan berdampak kepada keberkahan hidup. Keberkahan ini lahir karena harta yang kita gunakan adalah harta yang suci dan bersih, sebab harta kita telah dibersihkan dari kotoran dengan menunaikan zakat yang hakekatnya zakat itu sendiri berfungsi  untuk membersihkan dan mensucikan harta.

Ketiga, zakat bermakna An-Numuw, yang artinya tumbuh dan berkembang. Makna ini menegaskan bahwa orang yang selalu menunaikan zakat, hartanya (dengan izin Allah) akan selalu terus tumbuh dan berkembang. Hal ini disebabkan oleh kesucian dan keberkahan harta yang telah ditunaikan kewajiban zakatnya. Tentu kita tidak pernah mendengar orang yang selalu menunaikan zakat dengan ikhlas karena Allah, kemudian banyak mengalami masalah dalam harta dan usahanya, baik itu kebangkrutan, kehancuran, kerugian usaha, dan lain sebagainya. Tentu kita tidak pernah mendengar hal seperti itu, yang ada bahkan sebaliknya.

Keempat, zakat bermakna As-Sholahu, yang artinya beres atau keberesan, yaitu bahwa orang orang yang selalu menunaikan zakat, hartanya akan selalu beres dan jauh dari masalah. Orang yang dalam hartanya selalu ditimpa musibah atau  masalah, misalnya kebangkrutan, kecurian, kerampokan, hilang, dan lain sebagainya boleh jadi karena mereka selalu melalaikan zakat yang merupakan kewajiban mereka dan hak fakir miskin beserta golongan lainnya yang telah Allah sebutkan dalam Al – Qur’an.

e-Document - 08.29

Ikhlas: Kunci Bertemu Dengan Allah


Firman Allah SWT. : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya….” (QS. Al-Bayyinah: 5).
Ayat di atas menjelaskan bahwa beribadah kepada Allah itu harus disertai dengan niat yang ikhlas, bukan karena paksaan. Ibadah yang dikerjakan dengan ikhlas, bukan berarti harus dilakukan di tempat-tempat yang sunyi dan jauh dari keramaian. Bukan pula harus mengenakan pakaian shalat yang mewah dan serba baru. Begitu juga bukan harus shalat di masjid yang besar dan mewah atau dipimpin oleh imam yang bersuara merdu.
Akan tetapi, ibadah yang dikerjakan dengan ikhlas adalah ibadah yang dilakukan semata-mata ingin mendapat ridho dari Allah. Atau menurut Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq,keikhlasan adalah menjaga diri dari campur tangan makhluk. Ketika tujuan ini tertanam dalam benak kita, maka shalat dimana pun tempatnya tidak jadi masalah. Masjid besar, imam bersuara merdu, dan tempat sunyi hanyalah sekedar perantara kita untuk bisa ikhlas dalam beribadah dan bukan jaminan apakah shalat kita diterima oleh Allah.
Sebab, kata Imam Al-Ghazali, prinsip ikhlas itu adalah niat, sedangkan hakekat ikhlas adalah kemurnian niat dari kotoran apapun yang mencampurinya, dan kesempurnaan ikhlas adalah kejujuran. Ikhlas adalah sebuah misteri ilahi.
Sebagai kunci ikhlas, niat memang memiliki peran yang sangat kuat. Ketika niatnya ingin pamer, walaupun uang yang kita sedekahkan sangat banyak, maka kita tidak mendapatkan pahala sedikit pun. Namun, jika kita sedekah karena Allah, walaupun hanya 1 rupiah, maka kita akan mendapat pahala dari-Nya.
Buah dari keikhlasan adalah kejujuran. Maksudnya, orang yang terbiasa bekerja dengan ikhlas, maka dijamin dia akan selalu berkata jujur. Orang yang ikhlas adalah cermin dari hati yang bersih. Sedangkan orang yang hatinya bersih, dapat dipastikan akan selalu berkata jujur.
Nabi Saw. Bersabda, “Barang siapa yang mengikhlaskan diri kepada Allah selama empat puluh subuh, tampaklah sumber-sumber hikmah dari hatinya (mengalir) ke lisannya.” (Hadits Masyhur).
Jumlah empat puluh subuh dalama hadits itu, hanya perumpamaan saja. Sebetulnya itu hanya perumpamaan bagi orang yang berulang kali bisa mengerjakan ibadah dengan ikhlas. Empat puluh subuh merupakan jumlah yang banyak. Oleh karena itu, orang yang terbiasa dengan ikhlas dalam mengerjakan ibadah, santun dalam berbicara, bermakna dan membuat senang orang yang diajak bicara.
Untuk bisa ikhlas itu tidaklah mudah, banyak rintangan yang harus kita hadapi. Sebab, syetan tak henti-hentinya selalu mengganggu kita dalam bekerja dan beribadah. Syetan bida berwujud dalam bentuk apapun, untuk selalu mengusik keikhlasan kita kepada Allah.

e-Document - 04.34

Karakteristik Mental yang Sehat


Kesehatan mental terkait dengan (1) bagaimana kita memikirkan, merasakan dan melakukan berbagai situasi kehidupan yang kita hadapi sehari-hari; (2) bagaimana kita memandang diri sendiri, kehidupan sendiri, dan orang lain; dan (3) bagaimana kita mengevaluasi berbagai alternatif dan mengambil keputusan.
Adapun karakteristik mental yang sehat adalah sebagai berikut:
1.      Terhindar dari gejaa-gejala gangguan jiwa dan penyakit jiwa
Zakiyah Darajat (1975) mengemukakan tentang perbedaan antara gangguan jiwa (neurose) dengan penyakit jiwa (psikose), yaitu:
     a.      Yang neurose, masih mengetahui dan merasakan kesukaannya, sebaliknya yang kena psikose tidak.
     b.      Yang neurose, kepribadiannya tidak jauh dari realitas dan masih hidup dalam alam kenyataan pada umumnya, sedangkan yang kena psikose kepribadiannya dari segala segi (tanggapan, perasaan/emosi, dan dorongan-dorongannya) sangat terganggu, tidak ada integritas, dan ia hidup jauh dari alam kenyataan.
2.      Dapat menyesuaikan diri
Penyesuaian diri merupakan proses untuk memperoleh/memenuhi kebutuhan, dan mengatasi stress, konflik, frustasi, serta masalah-masalah tertentu dengan cara-cara tertentu.
3.      Memanfaatkan potensi semaksimal mungkin
Individu yang sehat mentalnya adalah yang mampu memanfaatkan potensi yang dimilikinya, dalam kegiatan-kegiatan yang positif dan konstruktif bagi pengembangan kualitas dirinya. Pemanfaatan diri itu seperti dalam kegiatan-kegiatan belajar (di rumah, di sekolah atau dilingkungan masyarakat), bekerja, berorganisasi, pengembangan hobi dan berolahraga.
4.      Tercapai kebahagiaan pribadi dan orang lain
Orang yang sehat mentalnya menampilkan perilaku atau respon-responnya terhadap situasi dalam rangka memenuhi kebutuhannya, memberikan dampak yang positif bagi dirinya dan atau orang lain.

e-Document - 02.47

Mengkritisi Krisis Akhklak


Sejarah mencatat bahwa revolusi Inggris tahun 1688, revolusi Amerika tahun 1776 dan revolusi Prancis Tahun 1789 merupakan retetan peristiwa yang mendasari paha anti-teokratis. Peristiwa bersejarah ini memperlihatkan sesuatu yang sama sekali terpikirkan oleh para pemikir keagamaan, yaitu munculnya gerakan yang sistematik untuk memisahkan kehidupan manusia dengan Tuhan. Faham ini sejalan dengan pandangan Aristoteles yang menganggap agama terpisah dari sistem kehidupan manusia.
Apa yang terjadi kemudian bahwa, ke-Esa-an Tuhan tetap eksis pada diri setiap pemeluk agama, tetapi perintahnya tidak dipatuhi. Di lain pihak, kehancuran komunisme di Eropa, melemahnya totalitarianisme di belahan dunia Timur dan pertumbuhan nasionalisme autoritarian di Selatan, memberi kontribusi lahirnya paham “ektrimisme” dan “pundamentalisme”. Paham-paham ini ditafsirkan menjadi pemicu timbulnya gerakan ektrimisme, terorisme, sadisme dan anarkhisme. Disaat gerakan seperti ini mendunia seketika itu pula semua orang terperangah seolah-olah terbangun dari tidur yang panjang. Para pemikir, pemuka agama, pendidik, birokrat dan penguasa terkejut menyaksikan menipisnya akhlak bangsa-bangsa di dunia seperti di Indonesia. Perisai itu teryata sudah rapuh dan tidak kokoh lagi. Tekanan sosial, ekonomi, budaya dan politik yang dipicu oleh materialisme, liberalisme dan kekuasaan menjadikan orang lupa posisinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Adil.
Analisa ini dilandasi berbagai faktor konkrit dari sebuah perlakuan manusia itu sendiri. Sekarang ini dengan mudah disaksikan betapa murahnya harga nyawa manusia dibandingkan dengan harga seekor sapi, kendati Hak Asasi Manusia (HAM) konon katanya sangat dihargai dan dihormati. Sementara itu di beberapa negara dan temat, seekor anjing lebih dihargai dan diperhatikan oleh manusia yang sekaligus adalah tuannya. Ada hewan yang dijadikan sebagai pembantu setia mencari nafkah. Ada pula hewan yang dianggap memiliki kekuatan magic yang tidak dimiliki hewan lain. Sebaliknya, komunitas manusiayang dianggap dapat menghalangi sebuah rencana ternyata harus dimusnahkan dari bumi ini dengan menggunakan teknologi pemusnah mutakhir. Fenomena ini merupakan perubahan nyata semakin lemahnya nilai akhlak manusia.

Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawar, M.A. dalam Aktulisasi Nilai-Nilai Qur’an dalam Sistem Pendidikan Islam. Ciputat Press

e-Document - 09.28

Sidang Itsbat: Penentuan 1 Syawwal 1432 H

e-Document| malam sahabat blogger semua pa kabar....??? tadi saya baru melihat Sidang Itsbat yang diselenggarakan di Kantor Kementerian Agama, untuk menentukan 1 syawwal 1432 H. Yang dalam keputusan sidang itu pemerintah menetapkan 1 syawwal 1432 H, jatuh pada hari Rabu tanggal 31 Agustus 2011. Cuman ada yang saya sayangkan di dalam proses sidang itu, munculnya pernyataan yang aga propokatif dari pihak NU dalam menyikapi sikap dari Muhammadiyah yang menetapkan 1 syawwal 1432 H jatuh pada hari Selasa tanggal 30 Agustus 2011. Dan juga saya tidak setuju dengan yang dikatakan oleh Pihak LAPAN bahwa metode yang digunakan oleh Muhammadiyah sudah usang, walaupun benar itu jangan dibicarakan di dalam sidang terbuka, sebab akan menyebabkan munculnya pandangan-pandangan yang menudutkan Muhammadiyah di masyarakat awam.

Sidang Itsbat diadakan untuk mencari solusi dan mengecilkan perbedaan-perbedaan yang ada didalam masyarakat dalam penentuan awal dan akhir bulan Ramadhan, walaupun peluang untuk berbeda itu tetap ada. Janganlah kita memaksakan kehendak dan keyakinan kita kepada orang lain, kita harus meghargai keyakinan orang lain sepanjang tidak bertentangan dengan Syareat Ajaran Islam.

Seperti pernyataan Cendikianwan Muslin Adjumardi Adjra (maaf klo salah nulis) siang tadi di Metrotv, yang mengatakan bahawa Indonesia bukan Negara Islam, Indonesia Negara Pancasila yang mayoritas masyarakatnya adalah Umat Islam, jadi pemerintah tidak punya kewenangan didalam menentukan awal atau akhir bulan Ramadhan, tapi pemerintah hanya punya kewenangan mempasilitasi perbedaan-perbedaan yang ada untuk mencari solusi terbaik.

HARGAILAH PERBEDAAN-PERBEDAAN YANG ADA SEBAGAI KARUNIA DARI ALLAH SWT. JANGAN PERBESAR PERBEDAAN, TAPI KECILKAN PERBEDAAN ITU DENGAN MENONJOLKAN PERSAMAAN.

MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN DALAM PENULISAN INI....!!!

e-Document - 07.09

Meluruskan Ketabuan Seks Suami-Istri (Bagian 1)


“Istri-istrimu adalah ladangmu. Garaplah ladangmu itu sesuai kehendakmu. Kerjakanlah amal baik untuk dirimu dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bawah kelak akan menemui-Nya. Berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.”

Kehidupan suami-istri adalah merupakan kehidupan suci dan penuh keberkahan. Kebahagiaan manusia lawan jenisnya hanya dapat dicapai mealui “mietsaqan ghalidlo” ikatan dan perjanjian yang disyari’atkan Allah dan Rasul-Nya yaitu pernikahan. Hidup berumah tangga dengan mencontoh kehidupan rumah tangga Rasulullah Saw. dijamin akan merasakan keinahan surga duniawi, karena hanya istri shalihahlah yang diakui sebagai sebaik-baik perhiasan dunia.

Diantara keindahan yang dapat dikimati dalam ikatan pernikahan ialah “hubungan suami istri” (senggama). Kendati demikian tidak sedikit diantara kaum muslimin yang mengemsampingkan pengetahuan seksual dalam kehidupan suami-istri. Walaupun seks bukanlah segala-galanya dalam rumah tangga, namun masalah ini sangat perlu diperhatikan. Tidak kurang Allah dan rasul-Nya juga memperhatikan tentang hal tersebut. Seperti ayat di atas termasuk bukti bahwa agama memandang penting, karena terkadang hubungan seks yang tidak beres berakibat pada interaksi suami istri yang hambar, bahkan ada juga yang berakibat kurang harmonisnya rumah tangga.

“Beberapa pasangan pengantin baru mungkin mengalami kesulitan seksual awal. Keadaan ini normal; timbul karena ketidaktahuan. Masalah seks masuh merupakan tabu dan misteri bagi sebagian masyarakat kita. Banyak orang tua mendapat kesulitan dalam menerangkan masalah seks secara turun temurun. Anak yang tidak tahu tentang seks mendapatkan informasi secara salah. Mereka menganggap seks merupakan rahasia. Ketidaktahuan seks ini dapat menimbulkan kesulitan-kesulitan, misalnya tentang anatomi alat kelamin, atau fungsi dan peranan alat kelamin dalam persenggamaan. Seorang istri yang sama sekali belum pernah melihat zakar suami yang sedang ereksi, pernah dilaporkan menderita shock pada kontak seksual pertamanya. Dia tidak yakin bahwa vaginanya cukup besar untuk menerima dan dimasuki zakar tersebut. Bahkan pernah dilaporkan sebuah kasus mengenai suami-istri yang telah menikah selama enam tahun, tanpa melakukan senggama sekalipun”. (dr. Nina Sutiretna, Bimbingan Seks suami Istri Pandangan Islam dan Medis: 25-26).

Ada riwayat dari Jabir yang menjelaskan, orang Yahudi berpendapat bahwa jika mereka menggauli istrinya dari arah belakang kemudian istri hamil, maka anaknya akan juling. Dan juga Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa para wanita Madinah (Anshar) kalau bergaul suami istri hanya satu gaya saja, tidak mau bervariasi. Tatkala wanita Madinah itu dinikahi oleh orang Quraisy (Muhajirin) lalu diajak suaminya berjima’ dengan variasi, mereka menolak. Mereka katakan: ‘Kami hanya biasa melakukan jima’ dengan satu gaya saja, lakukanlah seperti biasa, atau ceraikan saja.” Berita ini sampai kepada Rasulullah Saw., maka turunlah aya 223 dari surat Al-Baqarah.

Ditinjau dari sebab turunya, ayat ini merupakan bantahan kepada orang Yahudi yang beranggapan jima’ bervariasi itu membawa pengaruh pada bayi, dan merupakan bantahan kepada wanita Madinah yang menganggap tabu jima’ secara bervariasi. Dengan demikian, menurut al-Qur’an boleh saja melakukan jima’ dengan beraneka rama cara, asalkan melalui farji.

Sampai sini dulu pembahan kali ini, nanti disambung lagi......................

Dikutif dari: Indahnya Malam Pertama, Karangan Abu Nabhan Faqih, H. Subhan Nurdin, diterbitkan oleh Mujahid Press

e-Document - 00.50

Ramadhan Bulan Yang Penuh Rahmat

e-Document| Assalamu'alaikum sahabat blogger, pa kabar...??? mudah-mudahan kita diberi kesehatan dan keselamatan oleh Allah SWT. Amiin. Baru sebentar rasanya tahun kemarin kita menjalani Ibadah Puasa di Bulan Ramadhan, besok kita sudah mulai menjalani lagi Ibadah Puasa bulan Ramadhan.

Aku ingin mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa bagi sahabat Blogger yang beragama Islam. Puasa di Bulan Ramadhan hukumnya wajib bagi orang-orang yang beriman, sebagaimana Allah SWT telah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 183, yang artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa".

Dari ayat di atas, patutlah kita merenungkan, mengapa Allah SWT dalam ayat tersebut hanya mewajibkan puasa kepada orang-orang yang beriman, bukan kepada orang-orang islam...??? Klo kita melihat di dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI)Iman diartikan keyakinan dan kepercayaan kepada Allah, nabi, kitab, dsb. sedangkan Islam adalah agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Dari kedua pengertian itu, saya bisa menyimpulkan bahwa orang beriman sudah tentu pasti orang Islam, tapi orang Islam belum tentu orang beriman. ini bisa dibuktikan di jaman sekarang, banyak orang yang mengaku beragama Islam, tapi tidak menjalankan perintah Allah SWT dan Nabi Muhammad Saw sebagai bukti ke-Islamannya. Islamnya hanya terdapat di KTPnya saja.

Mudah-mudahan dengan kita menjalankan ibadah puasa, kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.. Amiin.

Akhir kata mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan ini.

e-Document - 07.13

IMAN DAN KESETIAKAWANAN SOSIAL

e-Document| hai blogger semua, pa kabar….??? Pada postingan kali ini, saya akan mengangkat mengenail kesetiakawanan sosial dan iman. Ini di ilhami dari kondisi sosial yang ada di negeri kita tercinta ini. Sudah semakin berkurangnya rasa kepedulian, rasa tolong menolong dan sifat gotong royong dari masyarakat Indonesia. Ok kita mulai saja pembahasannya.

Di dalam Surat Al-Hajj ayat 77 Allah Berfirman, yang artinya:

“Hai orang beriman! Rukuklah dan sujudlah kamu dan beribadahlah kepada Tuhanmu dan lakukanlah perbuatan yang baik supaya kamu berhasil.”

Ayat Al-Qur’an tersebut menggariskan dua dimensi hubungan manusia beriman yang harus selalu dipelihara dan dilaksanakan, yakni: (1) hubungan vertical dengan Allah SWT, melalui rukuk, sujud dan penyembahan formal dalam bentuk shalat dan ibadah-ibadah lainnya dan (2) hubungan horizontal dengan sesame manusia di masyarakat dalam bentuk perbuatan baik. Ayat tersebut juga mengisyaratkan perlunya menjaga keharmonisan, keseimbangan, equilibrium antara intensitas hubungan vertical dan hubungan horizontal.

Orientasi hubungan vertical disimbolkan oleh pencarian keselamatan dan kebaikan hidup di akhirat, sedangkan hubungan horizontal diorientasikan pada perolehan kebaikan dan keselamatan hidup di dunia. Dukungan atas pandangan ini terdapat pada ayat berikut:

“Carilah dengan apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu kehidupan akhirat, dan janganlah lupa bagimu di dunia ini; dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu; dan janganlah engkau mencari (kesempatan untuk) berbuat kerusakan di muka bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qashash: 77).”

Harta benda adalah anugerah Allah. Janganlah ia melupakan kehidupan hakiki di akhirat. Bila seseorang mati, tak satupun harta benda di dunia di bawa, kecuali yang telah dibelanjakan di jalan Allah. Namun, semangat untuk meraih kebaikan di akhirat janganlah mendorong orang melupakan keperluan hidup di dunia. Tinggallah dalam rumah yang baik, pakailah kendaraan yang baik dan moga-moga semuanya itu diberi puncak kebahagiaan dengan pasangan hidup yang setia. (Hamka, 1981, XX: 161).

Kalau harta kekayaan tidak digunakan sebagaimana mestinya, akan timbul tiga keburukan: (1) pemiliknya menjadi orang bakhil dan melupakan segala tuntutan dirinya dan segala sesuatu yang berhubungan dengan dirinya; (2) dia melupakan keperluan orang-orang fakir dan miskin yang lebih utama, atau langkah-langkah kebaikan lainnya yang memerlukan bantuan, dan (3) mungkin ia salah menafkahkan yang akibatnya bahkan mendatangkan bahaya dan kerusakan besar (Ali, 1994: 1004).

Dalam situasi dan kondisi tertentu, kesetiakawanan sosial itu harus ditunjukkan dalam bentuk kesanggupan bertempur di medan perang membela mereka yang tertindas.
Seperti Firman Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat 75, yang artinya:

“Kenapa kamu tidak berperang di dalan Allah dan untuk mereka yang lemah-laki-laki, perempuan dan anak-naka, yang berkata, “Tuhan, keluarkanlah kami dari kota ini yang penduduknya zalim; dan berilah kami dari pihak-Mu pelindung, dan berilah kami dari pihak-Mu penolong."

Referensi: Menjadi Muslim Sejati, karya Dr. Muhammad Chirzin, Penerbit Ad-Dawa’

e-Document - 08.23

NILAI-NILAI AL-QUR’AN DALAM SISTEM PENDIDIKAN ISLAM

e-Document| Point utama pembahasan ini adalah mencari upaya yang sungguh-sungguh agar pendidikan Islam menjadi pilihan utama bagi masyarakat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Pencerdasan akal pikiran dan sekaligus pencerdasan Qalbu merupakan langkah yang sangat efektif dalam membangun bangsa yang saat ini memerlukan generasi-generasi memiliki kecerdasan intelektual dan cerdas Qalbunya. Kedua kecerdasan ini hanya akan diperoleh bilamana lembaga pendidikan menggali dan menyalami nilai-nilai yang diajarkan Al-Qur’an dalam membangun kualitas Sumber Daya Umat (SDU) yang berkualitas dengan cara mengaktualisasikan nilai-nilai Qurani dalam system pendidikan Islam.

A.      Al-Qur’an Sebagai Sumber Nilai

Al-Qur’an tidak hanya sebagai petunjuk bagi suatu umat tertentu dan untuk periode waktu tertentu, melainkan menjadi petunjuk yang universal dan sepanjang waktu. Al-Qur’an adalah eksis bagi setiap zaman dan tempat. Petunjuknya sangat luas seperti luasnya umat manusia dan meliputi segala aspek kehidupan.

Bukan saja ilmu-ilmu keislaman yang digali secara langsung dari Al-Qur’an, seperti ilmu tafsir, fikih dan Tauhid, akan tetapi Al-Qur’an juga merupakan sumber ilmu pengetahuan dan teknologi, karena banyaks ekali isyarat-isyarat Al-Qur’an yang membicarakan peroalan-perosalan sains dan teknologi dan bidang keilmuan lainnya.

Bercermin pada wahyu pertama kali turun kepada Rasulullah Saw., Allah adalah untuk mencanangkan dan mendorong manusia agar mencari dan menggali ilmu pengetahuan, yaitu dengan kata-kata “iqra” (Q.S. Al-‘Alaq/96: 1-5). Dalam ayat-ayat permulaan itu ada kata-kata “qalam” yang berarti pena yang biasa menjadi lambang ilmu pengetahuan. Dengan demikian muncul berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi melalui semangat dan spirit Al-Qur’an. Makin banyak di gali ayat-ayat Al-Qur’an itu, makin banyak pula didapati isyarat tersebut. Hal itu karena Al-Qur’an tidak akan habis-habisnya walaupun ditulis dengan tinta lautan yang luas, bahkan di tambah dengan tujuh lautan lagi (Q.S. Luqman/31: 27).

Tuntunan dan anjuran untuk mempelajari Al-Qur’an dan menggali kandungannya serta menyebarkan ajaran-ajarannya dalam praktek kehidupan masyarakat merupakan tuntunan yang tidak akan pernah habis. Menghadapi tantangan dunia modern yang bersifat sekuler dan materialistis, umat Islam dituntut untuk menunjukan bimbingan dan ajaran Al-Qur’an yang mampu memenuhi kekosongan nilai moral kemanusiaan dan spiritualitas, di samping membuktikan ajaran-ajaran Al-Qur’an yang bersifat rasional dan mendorong umat manusia untuk mewujudkan kemajuan dan kemakmuran serta kesejahteraan. Banyak ungkapan Al-Qur’an yang secara langsung maupun tidak tersirat mengajarkan pengembangan ilmu pengetahuan, baik ilmu alam, social dan humaniora. Meski bukan ilmu an-sich sebagai tujuan, tetapi dari semua isyarat  tentang ilmu pengetahuan, yang diungkap oleh Al-Qur’an yang tidak dikenal pada masa turunnya, seperti dikatakan Dr. Aurice Bucaille dalam bukunya Al-Qur’an, Bible dan Sains Modern, telah terbukti tak satupun yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern.

Isyarat Al-Qur’an tentang ilmu pengetahuan dan kebenarannya sesuai dengan ilmu pengetahuan hanyalah salah satu bukti kemu’jizatannya. Ajaran Al-Qur’an tentang ilmu pengetahuan tidak hanya sebatas ilmu pengetahuan  (science) yang bersifat fisik dan empiric sebagai fenomena, tetapi lebih dari itu ada hal-hal nomena yang tak terjangkau oleh rasio manusia (Q.S. 17:18, 30:7, 69:38-39). Dalam hal ini fungsi dan penerapan ilmu pengetahuan juga tidak hanya untuk kepentingan ilmu dan kehidupan manusia semata, tetapi lebih tinggi lagi untuk mengenal tanda-tanda, hakikat wujud dan kebesaran Allah SWT. serta mengaitkannya dengan tujuan akhir, yaitu pengabdian kepada-Nya (Q.S. 2:164, 5:20-21, 41:53).

Nilai-nilai Qurani secara garis besar adalah nilai kebenaran (metafisis dan saintis) dan nilai moral. Kedua nilai Qur’ani ini akan memandu manusia dalam membina kehidupan dan penghidupannya.

B.      Aktualisasi dalam Sistem Pendidikan Islam

Sesuai perkembangan masyarakat yang semakin dinamis sebagai akibat kemajuan ilmu dan teknologi, terutama teknologi informasi, maka aktualisasi nilai-nilai Al-Qur’an menjadi sangat penting. Karena tanpa aktualisasi kitab suci ini, umat Islam akan menghadapi kendala dalam upaya internalisasi nilai-nilai Qur’ani sebagai upaya pembentukan pribadi umat yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, maju dan mandiri.

Secara normative, tujuan yang ingin dicapai dalam proses aktualisasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam pendidikan meliputi tiga dimensi atau aspek kehidupan yang harus dibina dan dikembangkan oleh pendidikan. Pertama, dimensi spiritual, yaitu iman, taqwa dan akhlak mulia (yang tercermin dalam ibadah dan mu’amalah). Dimensi spiritual ini tersimpul dalam satu kata yaitu akhlak. Akhlak merupakan alat control psikis dan sosial bagi individu dan masyarakat. Tanpa akhlak, manusia akan berada dengan kumpulan hewan dan binatang yang tidak memiliki tata nilai dalam kehidupannya. Rasulullah Saw merupakan sumber akhlak yang hendaknya diteladani oleh orang mukmin, seperti sabdanya. “Sesungguhnya aku diutus tidak lain untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”.

Pendidikan Akhlak dalam Isalm tersimpul dalam prinsip “berpegang teguh pada kebaikan dan kebijakan serta menjauhi keburukan dan kemungkaran” berhubungan erat dengan upaya mewujudkan tujuan dasar pendidikan Islam, yaitu ketakwaan, ketundukan dan beribadah kepada Allah SWT.

Kedua, dimensi budaya, yaitu kepribadian yang mantap dan mandiri, tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Dimensi ini secara universal menitikberatkan pada pembentukan kepribadian muslim sebagai individu yang diarahkan kepada peningkatan dan pengembangan factor dasar (bawaan) dan factor ajar (lingkungan atau miliu), dengan berpedoman kepada nilai-nilai keislaman. Faktor dasar dikembangkan dan ditingkatkan kemampuan melalui bimbingan dan pembiasaan berfikir, bersikap dan bertingkah laku menurut norma-norma Islam. Sedangkan faktor ajar dilakukan dengan cara mempengaruhi individu melalui proses dan usaha membentuk kondisi yang mencerminkan pola kehidupan yang sejalan dengan norma-norma Islam seperti teladan, nasehat, anjuran, ganjaran, pembiasaan hukuman dan pembentukan lingkungan serasi.

Ketiga, dimensi kecerdasan yang membawa kepada kemajuan, yaitu cerdas, kreatif, terampil, disiplin, etos kerja, professional, inovatif dan produktif. Diemsni kecerdasan dalam pandangan prikologi merupakan sebuah proses yang mencakup tiga proses yaitu analisis, kreativitas dan praktis. Kecerdasan apapun bentuknya, baik IQ, ISQ dan lain-lain saat ini diukur dengan tes-tes prestasi di sekolah, dan bukan merupakan prestasi di dalam kehidupan. Dulu kecerdasan itu diukur dengan membandingkan usia mental dengan usia kronologis, tetapi saat ini tes IQ membandingkan penampilan individu dengan rata-rata bagi kelompok dengan usia yang sama. Tegasnya dimensi kecerdasan ini berimplikasi bagi pemahaman nilai-nilai Al-Qur’an dalam pendidikan


Referensi:    Aktulisasi Nilai-nilai Qur’ani dalam Sistem Pendidikan Islam. Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawar, M.A. Ciputat Press

e-Document - 19.31

Keutamaan Surat Al-Fatihah

Surat Al-Fatihah adalah surat yang amat masyhur, telah dikenal oleh seluruh kaum muslimin. Saking terkenalnya, terkadang sebagian kaum muslimin menyalahgunakannya, seperti membacanya untuk orang mati saat ziarah kubur, atau mengirimkan pahalanya kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Syaikh Abdul Qodir Al-Jailaniy, dan orang-orang yang telah mati. Semua ini tak ada contohnya dari Allah dan Rasul-Nya.
Surat Al-Fatihah amat masyhur, namun banyak di antara kita tak mengetahui fadhilah, dan keutamaannya. Padahal banyak sekali hadits-hadits yang menunjukkan keutamaannya, baik dari sisi kandungan atau kedudukannya di sisi Allah -Azza wa Jalla-. Diantara fadhilah dan keutamaan Surat Al-Fatihah:





1. Surat yang Paling Agung

Abu Sa’id bin Al-Mu’allaa -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

"Dulu aku pernah sholat. Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memanggilku. Namun aku tak memenuhi panggilan beliau. Aku katakan, "Wahai Rasulullah, tadi aku sholat". Beliau bersabda, "Bukankah Allah berfirman,

"Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu". (QS. Al-Anfaal: 24).

Kemudian beliau bersabda, "Maukah engkau kuajarkan surat yang paling agung dalam Al-Qur’an sebelum engkau keluar dari masjid"?. Beliau pun memegang tanganku. Tatkala kami hendak keluar, maka aku katakan, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya tadi Anda bersabda, "Aku akan ajarkan kepadamu Surat yang paling agung dalam Al-Qur’an". Beliau bersabda, "Alhamdulillahi Robbil alamin. Dia ( Surat Al-Fatihah) adalah tujuh ayat yang berulang-ulang, dan Al-Qur’an Al-Azhim yang diberikan kepadaku". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (4720), Abu Dawud dalam Sunan-nya (1458), dan An-Nasa’iy dalam Sunan-nya (913)]

Al-Imam Ibnu At-Tiin-rahimahullah- berkata saat menjelaskan makna hadits di atas, "Maknanya, bahwa pahalanya lebih agung (lebih besar) dibandingkan surat lainnya". [Lihat Fathul Bari(8/158) karya Ibnu Hajar Al-Asqolaniy] 



2. Surat Terbaik dalam Al - Qur’an

Ibnu Jabir-radhiyallahu ‘anhu- berkata,

"Aku tiba kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- , sedang beliau mengalirkan air. Aku berkata, "Assalamu alaika, wahai Rasulullah". Maka beliau tak menjawab salamku (sebanyak 3 X). Kemudian Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- berjalan, sedang aku berada di belakangnya sampai beliau masuk ke kemahnya, dan aku masuk ke masjid sambil duduk dalam keadaan bersedih. Maka keluarlah Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- menemuiku, sedang beliau telah bersuci seraya bersabda, "Alaikas salam wa rahmatullah (3 kali)". Kemudian beliau bersabda, "Wahai Abdullah bin Jabir, maukah kukabarkan kepadamu tentang sebaik-baik surat di dalam Al-Qur’an". Aku katakan, "Mau ya Rasulullah". Beliau bersabda, "Bacalah surat Alhamdulillahi Robbil alamin (yakni, Surat Al-Fatihah) sampai engkau menyelesaikannya". [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/177). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-Musnad (no. 17633)]



3. Al - Fatihah adalah Al - Qur’an Al – Azhim
Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

"Ummul Qur’an (yakni, Al-Fatihah) adalah tujuh ayat yang berulang-ulang, dan Al-Qur’an Al-Azhim". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (4427), Abu Dawud dalam Sunan-nya (1457), dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (3124)]



4. Surat Ruqyah

Al-Qur’an seluruhnya bisa digunakan dalam meruqyah. Namun secara khusus Al-Fatihah pernah dipergunakan oleh para sahabat dalam meruqyah sebagian orang yang tergigit kalajengking. Dengan berkat pertolongan Allah, orang yang digigit kalajengking tersebut sembuh kala itu juga.

Sekarang kita dengarkan kisahnya dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudriy -radhiyallahu ‘anhu- ketika beliau berkata,

" Ada beberapa orang dari kalangan sahabat Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah berangkat dalam suatu perjalanan yang mereka lakukan sampai mereka singgah pada suatu perkampungan Arab. Mereka pun meminta jamuan kepada mereka. Tapi mereka enggan untuk menjamu mereka (para sahabat). Akhirnya, pemimpin suku itu digigit kalajengking. Mereka (orang-orang kampung itu) telah mengusahakan segala sesuatu untuknya. Namun semua itu tidak bermanfaat baginya. Sebagian diantara mereka berkata, "Bagaimana kalau kalian mendatangi rombongan (para sahabat) yang telah singgah. Barangkali ada sesuatu (yakni, obat) diantara mereka".Orang-orang itu pun mendatangi para sahabat seraya berkata, "Wahai para rombongan, sesungguhnya pemimpin kami tersengat, dan kami telah melakukan segala usaha, tapi tidak memberikan manfaat kepadanya. Apakah ada sesuatu (obat) pada seorang diantara kalian?" Sebagian sahabat berkata, "Ya, ada. Demi Allah, sesungguhnya aku bisa me-ruqyah. Tapi demi Allah, kami telah meminta jamuan kepada kalian, namun kalian tak mau menjamu kami. Maka aku pun tak mau me-ruqyah kalian sampai kalian mau memberikan gaji kepada kami". Merekapun menyetujui para sahabat dengan gaji berupa beberapa ekor kambing. Lalu seorang sahabat pergi (untuk me-ruqyah mereka) sambil memercikkan ludahnya kepada pimpinan suku tersebut, dan membaca, "Alhamdulillah Robbil alamin (yakni, Al-Fatihah)". Seakan-akan orang itu terlepas dari ikatan. Maka mulailah ia berjalan, dan sama sekali tak ada lagi penyakit padanya. Dia (Abu Sa’id) berkata, "Mereka pun memberikan kepada para sahabat gaji yang telah mereka sepakati. Sebagian sahabat berkata, "Silakan bagi (kambingnya)". Yang me-ruqyah berkata, "Janganlah kalian lakukan hal itu sampai kita mendatangi Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, lalu kita sebutkan kepada beliau tentang sesuatu yang terjadi. Kemudian kita lihat, apa yang beliau perintahkan kepada kita". Mereka pun datang kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- seraya menyebutkan hal itu kepada beliau. Maka beliau bersabda, "Apa yang memberitahukanmu bahwa Al-Fatihah adalah ruqyah?" Kemudian beliau bersabda lagi, "Kalian telah benar, silakan (kambingnya) dibagi. Berikan aku bagian bersama kalian". Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tertawa". [HR. Al-Bukhoriy (2156), Muslim (2201)]

Al-Imam Ibnu Abi Jamroh-rahimahullah- berkata, "Tempat memercikkan ludah ketika me-ruqyah adalah usai membaca Al-Qur’an pada anggota badan yang dilalui oleh ludah". [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (9/206)]



5. Cahaya Untuk Ummat Islam

Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

"Tatkala Jibril duduk di sisi Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- , maka ia mendengarkan suara (seperti suara pintu saat terbuka) dari atasnya. Maka ia (Jibril) mengangkat kepalanya seraya berkata, "Ini adalah pintu di langit yang baru dibuka pada hari ini; belum pernah terbuka sama sekali, kecuali pada hari ini". Lalu turunlah dari pintu itu seorang malaikat seraya Jibril berkata, "Ini adalah malaikat yang turun ke bumi; ia sama sekali belum pernah turun, kecuali pada hari ini". Malaikat itu pun memberi salam seraya berkata, "Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu; belum pernah diberikan kepada seorang nabi sebelummu, yaitu Fatihatul Kitab, dan ayat-ayat penutup Surat Al-Baqoroh. Tidaklah engkau membaca sebuah huruf dari keduanya, kecuali engkau akan diberi". [HR. Muslim dalam Shahih-nya (806), dan An-Nasa’iy (912)]



6. Penentu Sholat

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

"Barangsiapa yang melakukan sholat, sedang ia tak membaca Ummul Qur’an (Al-Fatihah) di dalamnya, maka sholatnya kurang (3X), tidak sempurna". Abu Hurairah ditanya, "Bagaimana kalau kami di belakang imam". Beliau berkata, "Bacalah pada dirimu (yakni, secara sirr/pelan), karena sungguh aku telah mendengar Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, "Allah -Ta’ala- berfirman, "Aku telah membagi Sholat (yakni, Al-Fatihah) antara Aku dengan hamba-Ku setengah, dan hamba-Ku akan mendapatkan sesuatu yang ia minta". [HR. Muslim (395), Abu Dawud (821), At-Tirmidziy (2953), An-Nasa’iy (909), dan Ibnu Majah (838)]

Abu Zakariya An-Nawawiy-rahimahullah- berkata, "Al-Fatihah dinamai sholat, karena sholat tak sah, kecuali bersama Al-Fatihah". [Lihat Syarh Shohih Muslim (2/127)]


Inilah beberapa diantara keutamaan Al-Fatihah, saya saya kutip dari http://www.ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?id=428%20Penulis:%20Buletin%20Jum%92at%20Al-Atsariyyah dengan lisensi : Diperbolehkan mengkopi artikel dengan menyertakan sumbernya. Cuman saya minta maaf, saya melakukan penghapusan pada beberapa bagian karena terbatanya kemampuan saya, namun tidak mengurangi inti dari artikel itu.

e-Document - 02.41

Keajaiban Membaca Bismillah

Setelah sekian lama saya cari-cari artikel mengenai keajaiban dalam hal membaca bismilah, akhirnya ketemu juga, di websitenya Pondok Pesantren Darunnajah, untuk selengkapnya silahkan baca artikel di bawah ini.

Membaca Bismillah mungkin kedengerannya sepele kali yach,bagi orang-orang yang tak begitu kenal Islam.Tetapi dalam Islam membaca Bismillah itu katanya sich ajaib banget,Bismillah juga kita dapat baca sebelum melakukan sesuatu dan mengakhirinya dengan membaca hamdalah.Tetapi orang Islam menganggap Bismillah itu hanya bacaan pendek yang bunyinya"Bismillahirrahmanirrahiim"dan itu juga sunah dalam membacanya ketika mau memulai sesuatu.Tapi jika kita sering mengucapkan Bismillah jika hendak melakukan sesuatu,InsyaAllah keajaiban turun sendiri dengan berbagai macam.Ini kisah nyata yang datangnya dari Pondok Pesantren Darunnajah.
Seorang santri yang bernama Hariz(bukan nama sebenarnya)kelas 2 ini ketika ia hendak ingin makan di dapur,tiba-tiba kakinya kram sebelah.Para temannya pun bergegas menolong si Hariz.Sesampainya dikamar,Ia pun mengucapkan"Bismillahirrahmanirrahiim" dan mengelus kakinya yang kram tadi sebanyak tiga kali.Dan tiba-tiba keajaiban pun datang,Kakinya pun dapat digerakkan dengan normal.Ia pun juga kaget ketika kakinya sembuh mendadak.Subhanallah.

Ada juga yang ketika itu Seorang santriwan sedang tidur dkasurnya.Dia pun tidak sadar ketika kasurnya itu banyak kutu kasur atau bahasa arabnya Baqot.Dia pun terbangun dari tidurnya yang lelap itu dan badannya merasa gatal,tetapi ia tak menggaruknya dan ia megucapkan lafadz Basmalah dan berdoa kepada Allah kemudian ia mengatakan kehadapan Kutu kasur tersebut,"Wahai sekolompok kutu kasur,jika kau ingin menginginkan badanku ini,maka cabut sajalah nyawaku,tetapi jika kau tidak ingin aku mati,makalah pergilah dari badanku ini.Seketika sekelompok kutu kasur tersebut pergi tanpa jejak.Subhanallah.

Itulah cerita kisah nyata yang berhubungan dengan Bismillah.Ini bukan sihir maupun sulap tetapi ini adalah keajaiban langsung dari Allah SWT Yang Maha Kuasa.Anda boleh mencoba membaca Bismillah tetapi harus dengan niat ikhlas dan sungguh-sungguh.Good Luck!!!
 

Sumber: http://www.darunnajah.com/?p=457

Update:

Oh iyah kali ini juga saya mau tambahin tentang keajaiban membaca bismillah. ini pengalaman pribadi saya, betapa dahsyat karunia Allah yang dibarikan kepada kita, ketika kita mau memulai sesuatu dimulai dengan membaca basmalah dengan ihklas karena Allah.

Ketika itu saya masih sekolah kelas 3 SMA, dan sedang menghadapi ujian praktek mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Guru PAI memberikan kisi-kisi ayat-ayat Al-Qur'an yang akan diujian, ayat-ayat itu harus kita hafalkan dan kita juga kita diwajibkan bisa menafsirkan ayat-ayat itu.

Karena ayat-ayat Al-Qur'an yang harus dihafalkan terlalu banyak dan tidak mungkin hafal semua dalam waktu 1 bulan, maka saya hanya menghafalkan beberapa ayat saja. Pada hari H ujian praktek, kita menunggu panggilan di depan kelas dengan hara-harap cemas takut ga lulus, akhirnya tiba juga giliran saya, untuk menenangkan diri sebelum masuk ke dalam kelas saya membaca bismilah, dan ketika di dalam saya dipersilahkan untuk memilih undian untuk menentukan ayat Al-Qur'an yang mana yang harus kita ucapkan dan tafsirkan, dengan hati berdebar saya pun mengambil undian itu, sambil di dalam hati membaca basmalah dan apa yang terjadi, Allah SWT memberikan anugrahnya kepada saya, tangan saya serasa ada yang menuntun untuk mengambil salah satu undian, dan ketika saya buka undian tersebut, Ya Allah yang Besar, ayat Al-Qur'an yang ada di dalam di undian itu adalah ayat yang saya hafalkan, dengan senang hati sambil mengucapkan hamdalah saya duduk dan mengikuti ujian itu sampai selesai dengan hasil yang memuaskan.

e-Document - 03.41